Teacher Learning Center


Alur Pendidikan Guru

Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia mempunyai jumlah guru yang sangat besar, dengan beragam latar belakang dan kemampuan. Meskipun keragaman ini memberikan warna dalam dunia pendidikan Indonesia, hal ini juga bisa menjadi tantangan dalam memajukan pendidikan Indonesia. Dengan rendahnya hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) yang hanya mencapai nilai 47 dari 100, terbukti bahwa guru di Indonesia masih membutuhkan sesi pengembangan diri dalam mengelola kelas dan mengajar

Guru dan Institusi Pendidikan

Apabila merujuk pada alur pendidikan guru di Indonesia, ada 2 tahapan yang harus dilalui, yaitu pelatihan guru pra-jabatan (pre-service training) dan pelatihan guru dalam jabatan (in-service training atau INSET). Seiring dengan perkembangan jaman dan kebutuhan dalam dunia pendidikan, guru perlu terus belajar dan menyerap pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap terbaru yang didapat melalui berbagai macam pelatihan. Hal yang mereka dapatkan ini kelak akan diajarkan, dilatihkan, dan diwariskan kepada siswa. Melalui pelatihan guru dalam jabatan, pembaharuan pengetahuan dan keterampilan ini dapat menjawab kebutuhan siswa untuk mengatasi tantangan dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mendukung karakteristik kompetensi yang diperlukan di dunia kerja.
Terbatasnya akses pengembangan profesi untuk melayani jumlah guru di Indonesia yang cukup besar, menjadi salah satu isu dalam dunia pendidikan Indonesia. Kesempatan bagi guru untuk mengikuti INSET di universitas, PPPPTK, LPMP, SEAMEO Centers, atau lainnya, juga tidak selalu tersedia dan terjangkau oleh guru dikarenakan jarak ataupun biaya yang kurang bersahabat. Begitu pula dengan kuantitas jenis pelatihan yang tidak sepadan dengan kompleksnya persoalan pendidikan dan jumlah guru yang memerlukan layanan ini. Terbatasnya kesempatan peningkatan profesionalisme guru ini lambat laun akan berdampak pada rendahnya kompetensi guru, terutama dalam merancang pendekatan dan strategi mengajar sesuai dengan perkembangan terbaru. Dengan demikian, akan ada kesenjangan antara keterampilan siswa yang didapat dari guru di sekolah dengan yang dibutuhkan dalam dunia kerja terkini.


Tujuan Program

Untuk mengatasi tantangan tersebut, SDO mengembangkan program Teacher Learning Center (TLC). Dengan mengusung filosofi Dari Guru, Oleh Guru dan Untuk Guru, TLC dikembangkan sebagai solusi untuk menyikapi keterbatasan akses guru dalam mendapatkan layanan pengembangan profesi. TLC adalah organisasi belajar mandiri yang struktural dan sistematis, dijalankan oleh guru terpilih dibawah pengawasan pemerintah daerah. Sebagai rumah belajar bagi guru disetiap jenjang di wilayah tertentu, TLC berperan sebagai motor dalam mempercepat perkembangan kompetensi guru di suatu daerah. Pengembangan TLC ini bertujuan untuk menciptakan komunitas belajar berkelanjutan yang memberikan akses pengembangan diri bertahap secara tatap muka dan daring dengan menggunakan fasilitas dan sumber belajar yang telah disediakan.
Program TLC ini sendiri terbagi menjadi 4 tahapan selama 2.5 tahun, yaitu tahap pra-program, pengembangan sistem, penguatan sistem, dan tahap keberlanjutan. Dalam setiap tahapan, Guru Inti TLC dan Pengelola TLC akan mendapatkan serangkaian pelatihan dan pendampingan sebagai bekal pengelolaan organisasi mandiri.


Manfaat Program TLC

  • Kesempatan untuk mengembangkan profesionalisme guru semakin meningkat

  • Guru akan mendapatkan layanan pengembangan diri serta mengembangkan jejaring sosial sesuai dengan profesi dan kebutuhan mereka

  • Memberikan kesempatan yang lebih bagi guru untuk meningkatkan kapabilitasnya dalam mengajar.

Berinteraksi dengan Kami

Punya Banyak Pertanyaan?